| Testimonial oleh Arrow Mahendra | | Print | |
|
Bootcamp Arrow II yang termasuk Bootcamp langka, membuat Tuhan dalam 3 hari berperkara dengan hidup saya dengan cara yang berbeda. Pesan “Always Ready” dan “Radical” yang saya terima sangat tidak biasa. Saya akan membagi detailnya dalam 3 bagian, Between God and Me, People and Me, Me and My Self.
Dari sejak lahir saya memang orang yang suka bekerja keras, orang yang tidak peduli keadaan, tidak takut apapun, dan berfokus pada tujuan. Dan semakin dewasa hal itu semakin terasah. Di Bootcamp Arrow Tuhan menyentuh bagian yang lain yang selama ini tidak pernah saya pikirkan. Semua game dan tantangan-tantangan di alam terbuka, semuanya nyaris biasa karena saya memang sejak SMP mengikuti banyak macam organisasi sehingga semua keadaan bootcamp nyaris sudah pernah saya alami. Sesuatu yang berbeda yang Tuhan taruh dalam diri saya, adalah pesan jika menjadi Radikal dalam diri itu sama sekali tidak cukup. Dalam memulai keradikalan memang awalnya harus berurusan dengan diri sendiri (“Bagaimana kita menyikapi sesuatu”), namun saat bootcamp Tuhan sadarkan saya, bahwa radikal untuk diri sendiri terlalu “rendah”, Keradikalan yang Tuhan inginkan adalah ketika diri saya radikal, dan keradikalan saya diterima di manapun saya berada. Intinya bagaimana tidak sekedar membuat orang lain mengerti apa yang saya lakukan lalu mendapat penilaian, namun bagaimana dalam kesederhanaan bisa menyatukan keradikalan sehingga berbuah dengan semestinya. Menyatukan keradikalan artinya belajar untuk menjadi radikal dalam setiap aspek hidup kita dan benar-benar siap diutus. Dan tidak ada satu orangpun yang bisa mencapainya sendiri. Sebanyak-banyaknya talenta yang saya miliki, seberapa banyak equiptment yang Tuhan berikan dalam hidup saya, seberapa besar Tuhan mengijinkan saya menggunakan otak saya, seperti apapun saya dinilai oleh orang lain, untuk mencapai keradikalan yang sesunguhnya saya perlu orang lain. Mencapai visi memang tidak mudah, walaupun kasih karunia besar. Dulu saya sering berpikir, harga sebuah visi cukuplah bekerja keras dan melakukan apa yang Tuhan ingin saya lakukan. Hal itu ternyata belum sepenuhnya, ada hal lain yang menjadi harga sebuah visi yaitu segala sesuatu yang tidak kita sukai. Misalnya, saya merupakan orang yang kurang peduli akan aturan dan sopan santun, saya selalu melakukan semuanya dengan style saya sendiri, namun untuk bebas dari peraturan paling tidak saya mematok standard saya harus lebih baik dari sebuah aturan. Faktanya di lingkungan pekerjaan saya, banyak orang menuntut saya menjadi seperti ini dan itu sesuai yang mereka “inginkan”, mereka berusaha meng’kotak’i saya dalam diri mereka, saya paling benci hal itu, karena saya tidak salah, dengan cara saya hasilnya sama, tidak ada efek sampingnya, lebih efisien, dan sebagainya. Disinilah Tuhan paling banyak sentuh hidup saya sewaktu Bootcamp Arrow, yaitu bagaimana kita bisa menyalurkan keradikalan kita, menyalurkan always ready kita kepada orang lain, bukan supaya mereka mengerti melainkan supaya mereka ikut di dalamnya. Saya sangat bersyukur, sekarang saya sudah berubah, sebisa mungkin saya melakukan seperti yang orang harapkan, walaupun cara saya tidak salah, namun apa artinya jika saya mencapai tujuan tapi saya kehilangan sebuah hubungan baik (tapi bukan berarti saya selalu memenuhi apa kata orang). Apa artinya keradikalan saya kalau hanya ada dalam diri saya sendiri. Apa artinya saya selalu siap tapi tidak bisa membuat orang turut serta untuk selalu siap juga. Bukankah hidup saya sebenarnya milik Kristus, yang artinya adalah untuk orang lain. “Keradikalan yang sebenarnya memang datang dari dalam diri kita, lalu keluar bukan untuk sekedar dilihat dan dirasakan, namun untuk menjadi satu dengan keradikalan orang lain, Kesiapan untuk diutus yang sempurnanya membuat efek excellent lebih dari yang bisa manusia bayangkan” Di Bootcamp ini saya kembali bertemu dengan orang-orang yang belum saya temui sebelumnya. Mereka unik dan membuat saya belajar dari cara mereka memandang kehidupan. Ada yang kurang begitu pandai menangkap pembicaraan namun begitu terbuka, sehingga yang lain bisa melengkapi karena tahu dimana letak hal yang salah. Ada yang begitu “ceplas-ceplos”, yang selalu bicara apapun keadaanya dengan keras dan bersemangat. Ada yang begitu marah dengan hal yang ia pandang salah. Ada yang begitu fun, apapun yang terjadi semuanya tetap fun walau dalam tekanan. Ada yang begitu moody. Itu di team saya, belum lagi di team lain. Sebenarnya dari awal saya sempat berpikir, harusnya ketika kita semua menangkap sebuah visi keradikalan dengan segala keterbatasan yang dibuat panitia, jika semua orang yang cerdik, semua tim akan bekerjasama dari awal, maka tidak terjadi kubu penguasa, kubu miskin, dan kubu netral. Namun rupanya memang rencana Tuhan, bahwa setiap team belajar sesuatu, dan pada hari terakhir terungkaplah semua yang baik yang Tuhan inginkan dimana semua peserta bootcamp belajar banyak hal. Akhirnya saya jadi mengerti terkadang orang lain tidak kita perhitungkan bagi visi kita atau team kita, namun akibatnya kita sudah kehilangan sebuah potensi dalam diri seseorang ketika kita menutup visi itu hanya untuk kita atau tim kita sendiri. Hal itu terjadi oleh tim merah yang begitu santai sehingga visinya tidak tercapai namun membantu tim putih melakukan yang terbaik bagi visi yang kini menjadi visi dari 2 tim. Tidak ada semangat, perasaan seindah ketika bisa meleburkan visi dengan visi, bukan sekedar membantu, tapi visinya menjadi visiku. Siap diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Seperti sudah saya ungkapkan diatas, Tuhan berurusan dengan bagimana saya memperlakukan orang lain dalam sebuah kehidupan BERSAMA yang radikal. Dan kesan pribadi saya terhadap bootcamp kali ini adalah 100% Tuhan berperkara. Selain itu, ini adalah bootcamp pertama saya bertemu dengan orang-orang yang begitu terbuka, rame, begitu tidak suka tinggal diam, sesuai dengan value team – SANTAN -. Hanya satu hal yang ada di benak saya sepulang bootcamp arrow, “setelah ini kemana Tuhan akan membawa saya?”. Dan saat ini Tuhan membidik saya di kampus, begitu banyak orang “sakit” yang perlu Ia sembuhkan, banyak orang yang “hard ass” yang harus segera Ia sentuh, banyak penipu-penipu kecil yang ingin Ia ubahkan, dan saya dalam jalurNya saat ini. Beberapa orang teman kaget bagaimana saya bisa menjadi orang yang “mau” mengikuti style mereka. Saya kadang kurang sabar dengan teman yang minta diajari sesuatu tapi tidak bisa cepat paham, malas, dan tidak suka belajar, tapi butuh. Menurut saya orang seperti ini adalah orang aneh, tapi kini saya bisa mengerti bagaimana “memaksa” orang-orang aneh ini belajar dengan cara mereka dan perlahan melepaskan kemalasan mereka. Selain itu saya juga menjumpai Mr. Perfect yang selalu ingin semuanya sesuai dengan yang ada dalam kepalanya, jika ada yang tidak sesuai maka salah. Mereka ini lebih aneh lagi, karena kadang yang mereka lakukan kurang efisien. Dulu saya memilih untuk cuek, dan berkata dalam hati “I will do it my way, and it works”. Namun sekarang saya memilih berpikir keras untuk menyadarkan bahwa yang mereka pikirkan tidak selalu benar, dan ketika mereka bertanya saya akan siap untuk menjawab kenapa tidak harus demikian. Semuanya demi Kerajaan Allah, dimana saya berdiri atasnya. Regards. |



